Budidaya ikan sistem bioflok merupakan teknologi budidaya berdasarkan prinsip asimilasi nitrogen anorganik oleh mikroba (bakteri heterotrof) dalam media budidaya, Secara visual, bioflok terbentuk jika warna air coklat muda, yang berupa gumpalan dan bergerak bersama arus air (Riani et al., 2012).
Teknologi bioflok dapat mengatasi masalah limbah budidaya, dan meningkatkan produktivitas budidaya dengan nilai SR mencapai 92% dan FCR 0,7-1,1 (Riani et al., 2012, dan Budiardi, 2008). Penerapan teknologi bioflok dapat dilakukan dengan cara menambahkan karbohidrat organik kedalam media pemeliharaan untuk meningkatkan rasio C/N dan merangsang pertumbuhan bakteri heterotrof. Sumber karbon yang dapat ditambahkan adalah glukosa, sukrosa, gliserol, tepung tapioca, pati, dan molase .
Alat yang digunakan adalah kolam terpal berbentuk bulat sebanyak tiga buah, blower, instalasi aerasi, alat ukur kualitas air, timbangan analitik, dan serok. Bahan yang digunakan adalah benih ikan lele ukuran 5-7 cm sebanyak 6.000 ekor (3.000 ekor/bak), gula air, tepung terigu, probiotik, garam krosok, dan air tawar.
Kolam Ikan dengan sistem BIOFLOK;
Sebelum digunakan, terpal dibersihkan terlebih dahulu, yaitu dicuci hingga kotorannya bersih kemudian dikeringkan. Setelah kering, terpal dipasang kembali dalam wadah dan dipasang pipa pada bagian tengah kolam untuk pembuangan air. Setelah kolam bersih dan kering, selanjutnya kolam dipasang instalasi aerasi kemudian diisi air tawar sebanyak 2000 liter. Selanjutnya kolam siap diberi perlakuan. Pembentukan bioflok dilakukan dengan cara menambahkan garam krosok sebanyak 2,5 kg, gula air 250 ml Probiotik 25 ml dan tepung terigu sebanyak 62,5 gr Kemudian bahan-bahan ini dilarutkan pada wadah terpisah dan ditebar pada kolam secara merata dengan urutan garam krosok, gula air dan probiotik, dan yang terakhir tepung terigu. Aerasi pada kolam harus tersedia secara terus menerus, agar flok dapat tumbuh dengan baik. Warna air diamati tiap harinya. Flok ditandai terbentuk bila air pada kolam semakin keruh dan terdapat gumpalan dalam air. Pada hari ketiga, benih ikan lele dapat ditebar pada kolam. Penebaran sebaiknya dilakukan saat pagi atau sore hari agar ikan tidak stres. Sebelum ditebar ikan diaklimatisasi yaitu dengan mengapungkan kantung berisi ikan dalam kolam selama 30 menit hingga terdapat embun dalam kantung plastik. Setelah itu kantung plastik dibuka dan biarkan ikan berenang keluar dengan sendirinya. Selama pemeliharaan, benih ikan lele diberi pakan sebanyak 3 kali sehari, yaitu pagi pukul 08.00, siang 13.00 dan sore 18.00 dengan FR 3% dari biomassa benih lele. Pengecekkan kualitas air dilakukan setiap hari menggunakan DO Meter, PH Meter dan Termometer, Ditulis Oleh Aris Njata





