adadad

adadad
dswd

Rote Cultural Dance

Tari Tai Benuk merupakan tari tradisional yang sangat popular dalam masyarakat Rote Ndao, biasanya ditampilkan pada acara pernikahan, pelantikan tokoh adat dan pesta rumah baru.

Sumba Cultural Dance

Tari Nenggu Teba merupakan tari tradisional yang sangat popular dari masyarakat Sumba Tengah (Mamboro).

Senin, 08 November 2021

Mahasiswa BDP Perikanan Undana Budidaya ikan dengan sistem BIOFLOK

Budidaya ikan sistem bioflok merupakan teknologi budidaya berdasarkan prinsip asimilasi nitrogen anorganik oleh mikroba (bakteri heterotrof) dalam media budidaya, Secara visual, bioflok terbentuk jika warna air coklat muda, yang berupa gumpalan dan bergerak bersama arus air (Riani et al., 2012). Teknologi bioflok dapat mengatasi masalah limbah budidaya, dan meningkatkan produktivitas budidaya dengan nilai SR mencapai 92% dan FCR 0,7-1,1 (Riani et al., 2012, dan Budiardi, 2008). Penerapan teknologi bioflok dapat dilakukan dengan cara menambahkan karbohidrat organik kedalam media pemeliharaan untuk meningkatkan rasio C/N dan merangsang pertumbuhan bakteri heterotrof. Sumber karbon yang dapat ditambahkan adalah glukosa, sukrosa, gliserol, tepung tapioca, pati, dan molase . Alat yang digunakan adalah kolam terpal berbentuk bulat sebanyak tiga buah, blower, instalasi aerasi, alat ukur kualitas air, timbangan analitik, dan serok. Bahan yang digunakan adalah benih ikan lele ukuran 5-7 cm sebanyak 6.000 ekor (3.000 ekor/bak), gula air, tepung terigu, probiotik, garam krosok, dan air tawar.
Kolam Ikan dengan sistem BIOFLOK; Sebelum digunakan, terpal dibersihkan terlebih dahulu, yaitu dicuci hingga kotorannya bersih kemudian dikeringkan. Setelah kering, terpal dipasang kembali dalam wadah dan dipasang pipa pada bagian tengah kolam untuk pembuangan air. Setelah kolam bersih dan kering, selanjutnya kolam dipasang instalasi aerasi kemudian diisi air tawar sebanyak 2000 liter. Selanjutnya kolam siap diberi perlakuan. Pembentukan bioflok dilakukan dengan cara menambahkan garam krosok sebanyak 2,5 kg, gula air 250 ml Probiotik 25 ml dan tepung terigu sebanyak 62,5 gr Kemudian bahan-bahan ini dilarutkan pada wadah terpisah dan ditebar pada kolam secara merata dengan urutan garam krosok, gula air dan probiotik, dan yang terakhir tepung terigu. Aerasi pada kolam harus tersedia secara terus menerus, agar flok dapat tumbuh dengan baik. Warna air diamati tiap harinya. Flok ditandai terbentuk bila air pada kolam semakin keruh dan terdapat gumpalan dalam air. Pada hari ketiga, benih ikan lele dapat ditebar pada kolam. Penebaran sebaiknya dilakukan saat pagi atau sore hari agar ikan tidak stres. Sebelum ditebar ikan diaklimatisasi yaitu dengan mengapungkan kantung berisi ikan dalam kolam selama 30 menit hingga terdapat embun dalam kantung plastik. Setelah itu kantung plastik dibuka dan biarkan ikan berenang keluar dengan sendirinya. Selama pemeliharaan, benih ikan lele diberi pakan sebanyak 3 kali sehari, yaitu pagi pukul 08.00, siang 13.00 dan sore 18.00 dengan FR 3% dari biomassa benih lele. Pengecekkan kualitas air dilakukan setiap hari menggunakan DO Meter, PH Meter dan Termometer, Ditulis Oleh Aris Njata

Minggu, 07 November 2021

Pencegahan Abrasi Pantai Sulamanda - NTT

FKP Undana bersama Karang Taruna dan Masyarakat Desa Mata Air melakukan kegiatan Penanaman mangrove di Pesisir Pantai Sulamanda Fungsi hutan mangrove adalah sebagai pencegah erosi pantai atau yang kerap kali disebut sebagai abrasi. Abrasi pantai merupakan sebuah proses pengikisan permukaan pantai yang digerus oleh air laut melalui hempasan ombak. Proses tersebut banyak menimbulkan kerugian bagi makhluk hidup. Namun, dengan adanya pohon serta akar dari tanaman mangrove diklaim dapat berfungsi sebagai penahan tanah yang cukup ampuh. Maka dari itu, melakukan rehabilitasi hingga penanaman hutan mangrove sangat dianjurkan untuk dilakukan pada area pantai yang berpotensi terjadi abrasi.
Terdapat Beberapa pantai di NTT yang dapat melindungi pemukiman warga dari abrasi, seperti Pantai Sulamanda yang terletak di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Namun, sudah mengalami kerusakan akibat abrasi pantai. Hal ini menjadi perhatian kusus dari beberapa pihak, seperti; Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP); Karang Taruna dan Warga Desa Mata Air yang berada di lokasi tersebut, karena jika dibiarkan abrasi akan sampai pada lokasi pertanian dan perumahan warga. Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP); Dr. Franchy Ch. Liufeto, S.Pi., M.Si, bersama Ketua Karang Taruna; Ari Buraen dan Kepala Desa Mata Air; Beni Kanuk. Bekerja sama dalam upaya melakukan kegiatan penanaman 500 anakan mangrove, yang melibatkan Mahasiswa Budidaya Perairan (BDP), Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) serta Pemuda dari Karang Taruna dan Desa Mata Air. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 23 September Tahun 2021. Dalam penyampaian singkat, Dr. Franchy menyatakan bahwa; Pantai yang telah rusak akibat abrasi harus direhab kembali dengan ditanami anakan mangrove. untuk mendukung kegiatan tersebut, pihaknya akan melakukan pendampingan kepada aparat desa dan karang taruna untuk terus menjaga keberlangsungan hidup dari anakan mangrove. hal tersebut disambut baik oleh pihak karang taruna dan masyarakat desa setempat. Ditulis Oleh Admin Website FKP Aris Ndena Njata; dikutip dari https://www.youtube.com/watch?v=YuOqQLeJK04