adadad

adadad
dswd

Rote Cultural Dance

Tari Tai Benuk merupakan tari tradisional yang sangat popular dalam masyarakat Rote Ndao, biasanya ditampilkan pada acara pernikahan, pelantikan tokoh adat dan pesta rumah baru.

Sumba Cultural Dance

Tari Nenggu Teba merupakan tari tradisional yang sangat popular dari masyarakat Sumba Tengah (Mamboro).

Senin, 06 Desember 2021

Perdana FKP – Undana Miliki Kapal Pendidikan

Peluncuran Kapal Pendidikan Fakultas Kelautan & Perikanan Universitas Nusa Cendana Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang perdana miliki kapal pendidikan. Kapal itu pertama kalinya dimiliki Undana yang diluncurkan oleh Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) dengan tujuan untuk mendukung penyelenggaraan Tridharma : Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dalam bidang Kelautan dan Perikanan. Rektor Undana Prof Fredrik Benu saat peluncuran kapal Undana di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Jumat (3/12) mengatakan Kapal itu disiapkan oleh Undana bagi mahasiswa FKP untuk mendukung kegiatan belajar mengajar (KBM). Menurut dia bagaimanapun mahasiswa tidak hanya belajar diruangan namun langsung praktek dilapangan. Kapal itu tidak hanya digunakan mahasiswa untuk praktek namun juga dapat digunakan untuk penelitian oleh para Dosen guna mengembangkan potensi kelautan di NTT. Dia berharap agar kapal itu dapat dijaga sehingga dapat bermanfaat dalam jangka waktu yang panjang. Dia juga meminta Rektor Undana terpilih Dr. Max Sanam dapat mengembangkan program itu. Mungkin akan ditambah kapal, atau alat pancing dan fasilitas lainnya lagi. Wakil Rektor Bidang Akademik dan sekaligus Rektor terpilih Undana Dr. drh. Maxs Sanam mengatakan peluncuran kapal itu guna mendukung visi misi Undana. Menurut dia peluncuran kapal itu guna tidak hanya berkecimpung dilahan kering namun juga dapat mengembangkan sayap ke perairan. Dia menjelaskan kapal itu ada sebagai media belajar dan juga akan mendukung kepariwisataan. Dia meminta agar ada desain program apa yang akan dilakukan kedepan. Dr. Maxs berkomitmen kedepan akan menambah kapal perikanan sehingga tidak hanya menjadi satu namun menjadi banyak sebagai bentuk mendukung pengembangan potensi laut melalui riset. Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Cendana Dr. Tian Liufeto mengatakan kehadiran Kapal Kelautan dan Perikanan Undana ini akan dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan PBM, Penelitian dan Pengabdian pada program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan dan Budidaya Perairan. Dia menjelaskan saat ini mahasiswa dan dosen diamanahkan menjalankan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka dalam bidang Kelautan Perikanan dan Kapal ini akan dimanfaatkan dengan baik untuk survey potensi sumberdaya ikan, kajian dan praktek bioekologi dan pendugaan stok sumberdaya perikanan, praktek dan survey kelayakan lokasi untuk pengembangan budidaya komoditas ekonomis penting, pendataan dan rencana pengelolaan sumberdaya perikanan bahkan akan dimanfaatkan untuk melakukan pengelolaan dan pengembangan ekowisata bahari yang didasarkan pada data hasil penelitian mahasiswa dan dosen untuk edukasi kepada publik. Saya kira untuk maksud tersebut, Undana akan terus ada dan mengambil peran dalam upaya menciptakan budaya maritim dikalangan generasi muda pewaris sumberdaya kalautan dan perikanan yang ada di NTT. Link Terkait; https://victorynews.id/beranda/undana-miliki-kapal-pendidikan-pertama/ https://kupangberita.com/2021/12/bangun-budaya-maritim-undana-luncurkan-kapal-pendidikan-perdana/ Gallery Foto
Dokumentasi Peluncuran Kapal Pendidikan FKP-Undana Oleh Aris Njata

Rabu, 01 Desember 2021

Anak - Anak NTT Rentan Menjadi Korban Bencana

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Topik; Pendampingan Mitigasi Bencana Pasca Badai Seroja Bagi Anak-Anak Paud di Daerah Pesisir Pantai Oesapa

Bencana seroja yang terjadi di wilayah NTT memberikan dampak yang serius bagi semua kalangan masyarakat . Anak usia dini adalah komunitas yang perlu mendapat perhatian penting dalam pencegahan dan kesiapsiagaan bencana khususnya di daerah yang tinggi indeks resiko bencana. Anak merupakan komunitas yang rentan menjadi korban bencana. Pada kelompok usia anak, dampak bencana dipandang lebih mengkhawatirkan, sehingga dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mereka dikategorikan sebagai kelompok rentan.

Melihat kondisi bencana seroja yang baru saja melanda NTT pada bulan April 2021, maka team kelompok pengabdian Dr. Lady Cindy Soewarlan, S.Pi.,M.Si, Dr Franchy Ch. Liufeto, S.Pi.,M.Si dan Lebrina Ivantry Boikh, S.Pi.,M.Si  melakukan pendampingan mitigasi bencana pasca badai seroja bagi anak-anak paud di daerah pesisir pantai oesapa. Pendampingan dilakukan dengan memberikan pembelajaran pada anak PAUD oleh pakar mitigasi dari Dosen FKIP PAUD UNDANA.

Model pembelajaran simulasi mitigasi bencana pada anak PAUD sebagai salah satu alternative kegiatan perlindungan terhadap bencana yang akan datang. Bentuk kegiatan yang akan dilakukan pada anak usia dini (PAUD) adalah kegiatan bermain yang terdiri dari peningkatan wawasan tentang pengertian, dampak, dan keterampilan mitigasi bencana, hingga anak PAUD dalam melakukan simulasi sederhana dengan tenang, tanpa ada kepanikan. Kegiatan bermain dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan mitigasi bencana . Kegiatan bermain dengan tema bencana ini perlu dilakukan secara berkesimbungan agar proses evakuasi saat bencana dapat terekam lebih baik pada memori anak-anak dan hal yang terpenting adalah proses sosialisasi dan mitigasi bencana pun perlu dikuasi terlebih dahulu oleh guru.

Kegiatan Pengabdian dilaksanakan pada 1 November Tahun 2021, bertempat di GMIT Diaspora Danau Ina. Kegiatan pengabdian juga melibatkan mahasiswa dari berbagai semester yaitu  Valentino A M Dethan dan Veronika Tiadora Bon (semester 1), Dwi Suryaningsih (semester 3), Putriana F. Purba dan Maria Deputriana Ukat (semester 5) sedangkan Etafina Madelin T. Maure dan Anthoneta W. R. Lobo (semester 7). Keterlibatan mahasiswa dimulai dari proses administrasi, survey lokasi, hingga proses kegiatan berlangsung.

Pembukaan acara oleh Bpk Dr. Franchy Ch. Liufeto, S.Pi., M.Si menyampaikan bahwa sejauh ini belum optimalnya penerapan metode pembelajaran mitigasi bencana terhadap anak usia dini sebagai media kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam yang akan terjadi. Melalui kegiatan pengabdian ini, anak-anak diajak untuk siap siaga terhadap bencana dan mereka mampu menanamkan pengetahuan serta pemahaman terhadap bencana khususnya bencana alam yang berpotensi di lingkungan sekitar mereka. Sebagai bentuk kesiapsiagaan pada penerapan pembelajaran, maka alternative yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah yang ada yaitu perlu dilakukan transfer pengetahuan dengan menggunakan metode pengembangan model pembelajaran mitigasi bencana untuk anak usia dini yaitu belajar melakukan simulasi bencana dengan cara bermain.

Kegiatan ini diikuti oleh 46 orang anak PAUD dan 5 Orang Guru PAUD. Pemateri dilakukan oleh dosen FKIP PAUD UNDANA yaitu Vanida Mundiarti, S.Pd. M.Pd dan Sartika Kale, S.Pd.,M.Pd. Materi yang diberikan berupa:

  1. Bermain dan Bernyanyi
  2. Stimulasi kebencanaan di wilayah pesisir
  3. Diskusi  kebencanaan

Kegiatan pengabdian berjalan dengan baik.  Anak-anak PAUD memberikan respon terhadap kegiatan yang dilakukan. Mereka terlihat aktif dalam bernyanyi, bermain dan mempraktikan simulasi kebencanaan yang diberikan, bahkan mereka aktif merespon dengan memberikan jawaban dan kesimpulan saat ditanya oleh pemateri.

Harapan yang disampaikan oleh pengelola dan guru-guru PAUD bahwa kegiatan ini perlu dilanjutkan dengan pendampingan model rancangan perangkat pembelajaran mitigasi bencana bagi  guru-guru PAUD. Ditulis Oleh Aris Njata dikutip dari tulisan Lebrina Ivantry Boikh, S.Pi.,M.Si

Senin, 08 November 2021

Mahasiswa BDP Perikanan Undana Budidaya ikan dengan sistem BIOFLOK

Budidaya ikan sistem bioflok merupakan teknologi budidaya berdasarkan prinsip asimilasi nitrogen anorganik oleh mikroba (bakteri heterotrof) dalam media budidaya, Secara visual, bioflok terbentuk jika warna air coklat muda, yang berupa gumpalan dan bergerak bersama arus air (Riani et al., 2012). Teknologi bioflok dapat mengatasi masalah limbah budidaya, dan meningkatkan produktivitas budidaya dengan nilai SR mencapai 92% dan FCR 0,7-1,1 (Riani et al., 2012, dan Budiardi, 2008). Penerapan teknologi bioflok dapat dilakukan dengan cara menambahkan karbohidrat organik kedalam media pemeliharaan untuk meningkatkan rasio C/N dan merangsang pertumbuhan bakteri heterotrof. Sumber karbon yang dapat ditambahkan adalah glukosa, sukrosa, gliserol, tepung tapioca, pati, dan molase . Alat yang digunakan adalah kolam terpal berbentuk bulat sebanyak tiga buah, blower, instalasi aerasi, alat ukur kualitas air, timbangan analitik, dan serok. Bahan yang digunakan adalah benih ikan lele ukuran 5-7 cm sebanyak 6.000 ekor (3.000 ekor/bak), gula air, tepung terigu, probiotik, garam krosok, dan air tawar.
Kolam Ikan dengan sistem BIOFLOK; Sebelum digunakan, terpal dibersihkan terlebih dahulu, yaitu dicuci hingga kotorannya bersih kemudian dikeringkan. Setelah kering, terpal dipasang kembali dalam wadah dan dipasang pipa pada bagian tengah kolam untuk pembuangan air. Setelah kolam bersih dan kering, selanjutnya kolam dipasang instalasi aerasi kemudian diisi air tawar sebanyak 2000 liter. Selanjutnya kolam siap diberi perlakuan. Pembentukan bioflok dilakukan dengan cara menambahkan garam krosok sebanyak 2,5 kg, gula air 250 ml Probiotik 25 ml dan tepung terigu sebanyak 62,5 gr Kemudian bahan-bahan ini dilarutkan pada wadah terpisah dan ditebar pada kolam secara merata dengan urutan garam krosok, gula air dan probiotik, dan yang terakhir tepung terigu. Aerasi pada kolam harus tersedia secara terus menerus, agar flok dapat tumbuh dengan baik. Warna air diamati tiap harinya. Flok ditandai terbentuk bila air pada kolam semakin keruh dan terdapat gumpalan dalam air. Pada hari ketiga, benih ikan lele dapat ditebar pada kolam. Penebaran sebaiknya dilakukan saat pagi atau sore hari agar ikan tidak stres. Sebelum ditebar ikan diaklimatisasi yaitu dengan mengapungkan kantung berisi ikan dalam kolam selama 30 menit hingga terdapat embun dalam kantung plastik. Setelah itu kantung plastik dibuka dan biarkan ikan berenang keluar dengan sendirinya. Selama pemeliharaan, benih ikan lele diberi pakan sebanyak 3 kali sehari, yaitu pagi pukul 08.00, siang 13.00 dan sore 18.00 dengan FR 3% dari biomassa benih lele. Pengecekkan kualitas air dilakukan setiap hari menggunakan DO Meter, PH Meter dan Termometer, Ditulis Oleh Aris Njata

Minggu, 07 November 2021

Pencegahan Abrasi Pantai Sulamanda - NTT

FKP Undana bersama Karang Taruna dan Masyarakat Desa Mata Air melakukan kegiatan Penanaman mangrove di Pesisir Pantai Sulamanda Fungsi hutan mangrove adalah sebagai pencegah erosi pantai atau yang kerap kali disebut sebagai abrasi. Abrasi pantai merupakan sebuah proses pengikisan permukaan pantai yang digerus oleh air laut melalui hempasan ombak. Proses tersebut banyak menimbulkan kerugian bagi makhluk hidup. Namun, dengan adanya pohon serta akar dari tanaman mangrove diklaim dapat berfungsi sebagai penahan tanah yang cukup ampuh. Maka dari itu, melakukan rehabilitasi hingga penanaman hutan mangrove sangat dianjurkan untuk dilakukan pada area pantai yang berpotensi terjadi abrasi.
Terdapat Beberapa pantai di NTT yang dapat melindungi pemukiman warga dari abrasi, seperti Pantai Sulamanda yang terletak di Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Namun, sudah mengalami kerusakan akibat abrasi pantai. Hal ini menjadi perhatian kusus dari beberapa pihak, seperti; Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP); Karang Taruna dan Warga Desa Mata Air yang berada di lokasi tersebut, karena jika dibiarkan abrasi akan sampai pada lokasi pertanian dan perumahan warga. Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP); Dr. Franchy Ch. Liufeto, S.Pi., M.Si, bersama Ketua Karang Taruna; Ari Buraen dan Kepala Desa Mata Air; Beni Kanuk. Bekerja sama dalam upaya melakukan kegiatan penanaman 500 anakan mangrove, yang melibatkan Mahasiswa Budidaya Perairan (BDP), Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (MSP) serta Pemuda dari Karang Taruna dan Desa Mata Air. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 23 September Tahun 2021. Dalam penyampaian singkat, Dr. Franchy menyatakan bahwa; Pantai yang telah rusak akibat abrasi harus direhab kembali dengan ditanami anakan mangrove. untuk mendukung kegiatan tersebut, pihaknya akan melakukan pendampingan kepada aparat desa dan karang taruna untuk terus menjaga keberlangsungan hidup dari anakan mangrove. hal tersebut disambut baik oleh pihak karang taruna dan masyarakat desa setempat. Ditulis Oleh Admin Website FKP Aris Ndena Njata; dikutip dari https://www.youtube.com/watch?v=YuOqQLeJK04